Banyak hikmah dan keutamaan dibalik puasa sya'ban. Salah satunya
yaitu puasa di bulan Sya’ban sebagai latihan atau pemanasan sebelum
memasuki bulan Ramadhan. Jika seseorang sudah terbiasa berpuasa sebelum
puasa Ramadhan, tentu dia akan lebih kuat dan lebih bersemangat untuk
melakukan puasa wajib di bulan Ramadhan.
Ilustrasi : Niat Puasa Sunnah Sya'ban (Sebelum sahur) |
نويت صوم شهر شعبان سنة لله تعالى
NAWAITU SAUMA SYAHRI SYAHBAN SUNNATAN LILLAHI TA'ALA
Artinya :
Saya niat puasa bulan sya’ban sunnah karena Allah ta’ala
Para Ulama berselisih pendapat tentang dianjurkannya memperbanyak puasa di bulan Sya’ban,
mengingat adanya banyak riwayat tentang puasa sunnah ini. Pendapat
yang paling kuat adalah keterangan yang sesuai dengan hadis dari Usamah
bin Zaid, beliau bertanya: “Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat Anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana Anda berpuasa di bulan Sya’ban". Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ،
وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ،
فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
Artinya :
Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Sebagaiamana yang kita ketahui, bahwa bulan sya’ban adalah bulan
kedelapan pada penanggalan tahun hijriah atau bulan setelah bulan rajab,
sementara Ramadhan bulan kesembilan. Jadi Sya’ban posisinya sebelum
Ramadhan. Rasulullah SAW puasa secara penuh selama satu bulan hanya di
bulan Ramadhan. Sementara , bulan Sya’ban adalah bulan yang paling
banyak diisi dengan puasa sunnah oleh Nabi SAW, seperti puasa
senin-kamis, shaum daud, dan puasa sunnah lainnya.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ
يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ . فَمَا رَأَيْتُ
رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ
رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ
Artinya :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban. (HR. Bukhari dan Muslim)
Di antara rahasia kenapa Nabi SAW banyak berpuasa di bulan Sya’ban adalah karena puasa Sya’ban
adalah ibarat ibadah rawatib (ibadah sunnah yang mengiringi ibadah
wajib). Sebagaimana shalat rawatib adalah shalat yang memiliki keutamaan
karena dia mengiringi shalat wajib, sebelum atau sesudahnya,
demikianlah puasa Sya’ban. Karena puasa di bulan Sya’ban sangat dekat
dengan puasa Ramadhan, maka puasa tersebut memiliki keutamaan. Dan puasa
ini bisa menyempurnakan puasa wajib di bulan Ramadhan.